Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan. Hal tersebut disebabkan karena tidak ada permintaan dari sektor swasta dan pemerintah atas data dan nasehat yang berasal dari perspektif Ekonomi Perkotaan.
Sebaliknya cabang ekonomi perkotaan sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh pengambil keputusan tingkat kota saat hendak menyusun rencana pembangunan, investasi kota dan rencana tata ruang. Dalam hal tersebut, pengambil keputusan mengabaikan akan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.
Kerap kali pada akhirnya rencana pembangunan maupun tata ruang mengabaikan geliat ekonomi komunitas, sehingga pengabaian tersebut tak jarang justru menghambat potensi yang telah ada, memberikan beban tambahan terhadap daerah tersebut atau malah mematikan kegiatan sesungguhnya sudah berjalan. Keacuhan ini pun bukannya disengaja, namun memang perlu jembatan antara pengetahuan komunal praktis yang sudah hidup didalam masyarakat untuk bisa sampai ke meja teknokrat dan birokrat.
Pasar Rawa Belong, Ekonomi Komunitas dan Perkotaan
Ekonomi Perkotaan diperlukan semestinya oleh sektor publik, oleh pemerintah dalam menyusun kebijakan perkotaan. Hal, mencoba menunjukkan bagaimana intervensi pemerintah berupa pembangunan pasar dapat mengembangkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan komunitas di Rawabelong; dan sebaliknya perkembangan yang dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.
Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup. Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.
Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas
Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.
Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.
Akhirnya Rawa Belong harus merespon permintaan pasar yang semakin besar, sehingga mengharuskan terjadinya ‘produksi masal’ yang berbuntut pada penjualan dengan menggunakan pendekatan rasional.
Rawa Belong pun menjadi lingkungan dimana relasi-relasi kehidupan yang terjalin didalamnya tidak memiliki keterkaitan satu sama lain – dan akhirnya hanya menjadi obyek konsumsi belaka bagi pengunjungnya.