Pasar Rawa Belong

Pasar Rawa Belong dikenal sebagai pusat penjualan berbagai macam bunga dan tanaman lainnya di Jakarta. Pasar ini terkenal bahkan sampai ke Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Menurut legenda, pasar ini adalah peninggalan dari Si Pitung (Pahlawan Betawi yang melawan Belanda).Anda dapat menemukan banyak jenis bunga dan tanaman. Dari bunga lokal seperti Orchid, Rose, Jasmine, sampai yang impor seperti Tulip, Lily, Aglonema, Kamboja dan Taiwan.

Kegiatan di Pasar Rawa Belong menjadi 2 bagian. Untuk menemukan bunga segar dari Sukabumi dan Bandung, Jawa Barat, Anda harus datang pada 02.00 WIB sampai 06.00 WIB dan untuk mendapatkan bunga segar dari Petani Sumatera, Anda bisa datang pada 14.00 WIB sampai 21.00 WIB

Selain sebagai tempat penjualan berbagai jenis bunga dan tanaman, Pasar Rawa Belong juga digunakan sebagai tempat wisata bagi wisatawan. Sambil berjalan-jalan di sekitar untuk mencari bunga dan tanaman, anda dapat menghirup udara dengan kesegaran harum bunga dan memanjakan mata anda dengan keindahan tanaman seperti berada dipegunungan.

Salah satu kegiatan ekonomi komunitas yang begitu melekat dalam kehidupan sosial, adalah Pasar Rawa Belong. Pasar Rawa Belong adalah pasar bunga terbesar di Asia Tenggara, dengan omset berkisar 15-20 milyar per bulan, dan nilai tersebut belum termasuk dengan nilai perputaran uang kegiatan penunjangnya, seperti penjualan pot, busa air, dekorasi pesta hingga rias pengantin. Namun dalam sejarahnya, Pasar Rawa Belong juga merupakan kawasan permukiman yang didominasi oleh etnis Betawi. Karenanya, tak hanya sebagai pusat bunga, Rawa Belong pun menjadi tempat tujuan jika ingin mengadakan pernikahan ala Betawi maupun riasan pengantin ala Betawi.

Sebelumnya, Rawa Belong pun dikenal sebagai panghasil bunga segar, terutama bunga anggrek, dengan keadaan yang masih berupa sawah dan kebun bunga untuk bertani aneka macam bunga. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.

Adalah Gubernur Ali Sadikin yang melihat potensi Rawa Belong, yang kemudian mengembangkannya dengan menyediakan los pasar, sehingga memudahkan warga berjualan dan pembeli untuk berdatangan. Sementara gedung pasar yang sekarang berdiri dibangun pada tahun 1989 oleh Pemprov DKI Jakarta.

Relasi antara produsen dan lahan pertaniannya perlahan-lahan harus berubah, ketika Universitas Bina Nusantara berdiri dan berkembang hingga menyebabkan konversi lahan perkebunan bunga menjadi bangunan penunjang Universitas Bina Nusantara, seperti rumah kos, tempat makan dan pertokoan. Sekarang hanya sedikit produsen bunga anggrek maupun tanaman hias lainnya yang masih bertahan, dan kebanyakan suplai bunga harus dipenuhi dari Lembang, Cipanas hingga Malang.

Saat ini ada 125 pedagang tetap yang menempati kios-kios, sementara ada 175 pedagang musiman yang menempati lapak dan membayar retribusi harian. Hari-hari pasarannya menjadi Kamis, Jumat, Sabtu, menandakan sibuknya akhir minggu yang menjadi hari-hari favorit untuk menyelenggarakan pesta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s